SUMENEP lintasmadura.id– Bagi banyak umat Islam, ibadah haji merupakan puncak perjalanan spiritual yang menyimpan pelajaran berharga tentang kehidupan. Pengalaman itu juga dirasakan oleh H. Nurul Hidayatullah, S.H., advokat asal Desa Karang Anyar, Kecamatan Kalianget, Kabupaten Sumenep, yang memaknai haji sebagai proses penyucian diri, bukan sekadar memenuhi rukun Islam kelima.
Nurul mengisahkan, selama berada di Tanah Suci dirinya menyadari bahwa ibadah haji bukan hanya tentang menjalankan rangkaian ritual. Di balik setiap prosesi, terdapat pelajaran mengenai kesabaran, keikhlasan, kedisiplinan, serta kemampuan mengendalikan ego ketika harus berbaur dengan jutaan jemaah dari berbagai negara yang memiliki latar belakang budaya dan karakter berbeda.
Menurutnya, seluruh pengalaman yang dirasakan selama berhaji sejatinya merupakan cerminan dari niat, sikap, dan amal seseorang.
“Pada akhirnya, pelaksanaan ibadah haji kembali kepada diri kita sendiri. Apa yang kita rasakan dan peroleh selama berhaji sangat bergantung pada amal, niat, dan perbuatan kita masing-masing,” ujar H. Nurul Hidayatullah saat ditemui di kediamannya, Jumat (26/6/2026).
Ia menuturkan, makna haji yang sesungguhnya justru terlihat setelah jemaah kembali ke tanah air. Kemabruran tidak diukur dari gelar “Haji” yang melekat di depan nama, melainkan dari perubahan perilaku dan akhlak dalam kehidupan sehari-hari.
Nilai-nilai yang diperoleh selama berada di Makkah dan Madinah, seperti toleransi, kepedulian, kesabaran, serta keikhlasan, menurutnya harus mampu diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat.
“Haji mengajarkan kita untuk terus memperbaiki diri. Gelar haji bukan tujuan utama, melainkan bagaimana nilai-nilai yang diperoleh di Tanah Suci dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan memberi manfaat bagi sesama,” katanya.
Berbekal pengalaman spiritual tersebut, Nurul mengajak masyarakat, khususnya calon jemaah haji asal Kabupaten Sumenep, untuk mempersiapkan diri secara menyeluruh. Selain kesiapan fisik dan materi, pembinaan mental serta kebersihan hati menjadi bekal utama agar mampu meraih haji yang mabrur.
Ia meyakini, kemabruran bukanlah sesuatu yang diperoleh secara instan, melainkan buah dari ketulusan niat dan perilaku yang baik sejak sebelum berangkat hingga kembali ke tengah masyarakat.
“Bagi saya, haji yang mabrur lahir dari hati yang bersih dan perilaku yang baik. Sebab, setiap langkah di Tanah Suci pada akhirnya akan kembali kepada pribadi masing-masing sesuai dengan amal dan perbuatan yang dilakukan selama menjalankan ibadah,” pungkasnya.












