BANGKALAN – Lintasmadura.id Mencuat kembali isu industrialisasi di Madura, rumor ini bukanlah sebuah perkara baru bagi Ulama serta Tokoh Masyarakat Madura, sebenarnya pada saat wacana pembangunan jembatan penghubung Surabaya – Madura, di hembuskan kembali pada akhir masa orde baru. Wacana jembatan ini sendiri sebenarnya bisa di telusuri jauh kebelakang pada masa M. Noer jadi Gubernur Jawa Timur.
Tokoh Ulama Madura sudah merasa khawatir dengan hal ini,
Kekhawatiran di tanggapi oleh para Kiyai Madura dengan melakukan kajian rencana industrialisasi Madura hingga ke kota Batam guna melihat Aspek-aspek yang akan di rasakan langsung oleh Masyarakat pribumi Batam, Tokoh Ulama Madura merasa tercengang atas temuan-temuan yang dirasakan oleh Pribumi.
Hal itu yang membuat kekhawatiran terbesar bagi Tokoh Ulama Madura apabila hal-hal yang seperti di kawasan industri Kota Batam akan terjadi di pulau Madura, yang masih berpegang teguh terhadap kearifan lokal seperti yang disampaikan salah satu Tokoh kharismatik Madura K,H,R. Ali Badri Zaini, saat di temui oleh awak Media di kediamannya pada hari Kamis 13-08-2026 Desa Blega kec,Blega Babupaten Bangkalan provinsi Jawa timur.
K, H, R Ali Badri Zaini, sangat menyayangkan atas wacana industrialisasi Madura, khususnya di Bangkalan tanpa ada Musyawarah dengan para Tokoh Ulama se Madura, mengingat nilai IPM (Index Pembangunan Masyarakat), Masyarakat Madura khususnya wilayah Bangkalan, yang mengenyam pendidikan 11 tahun atau mayoritas lulusan SMP (Sekolah Menengah Pertama) sedangkan untuk menjadi Karyawan industri minimal harus setara SMA Sekolah Menengah Atas, atau yang sederajat, hal itu yang di khawatirkan,” ucapnya
Masih di tempat yang sama, KHR, Ali, Badri Zaini, bukan sekedar itu saja yang timbul dalam benaknya, kekhawatiran para Tokoh Ulama Madura, merasa Bagaikan Petir Menyambar di Siang Bolong itulah ungkapan yang di sampaikan, Kenapa.. ? adanya Nota Kesepakatan penanda tangannan MoU antara Guangdong (Fenyong) ASEAN Industrial Park dari Tiongkok, oleh Akhmad Ma’ruf Maulana, (President Direktor PT WIRA RAJA MADURA INTERNATIONAL), tanpa adanya Musyawarah, Pamit, atau Kulo Nuwon (kata orang jawa) kepada Seluruh Tokoh Ulama di Madura.
“Dengan adanya industrialisasi di Madura ini di khawatirkan Masyarakat setempat akan menjadi penonton atau hanya sebagai tamu di tanah kelahirannya sendiri, sehingga suasana kondusifitas setempat, mengingat industrialisasi Madura adalah industri dari Investor asing, yang pastinya akan membawa Tenaga Kerja Asing (TKA) yang sangat jauh berbeda dengan sikap, sifat, karakteristik pribumi, sehingga di khawatirkan akan menimbulkan kericuhan, seperti yang sudah terjadi di Kalimantan dan Batam, hal ini saya tidak ingin terjadi di tanah tercinta yaitu Madura, serta memohon dengan sangat kepada ibu Khofifah selaku Gubernur Jawa timur untuk melihat kembali aspek-aspek negatifnya jangan hanya melihat dari segi positifnya, karena Madura masih mempunyai cita-cita besar yang belum terwujud hingga detik ini yaitu Madura provinsi” pungkasnya.
aba












