SUMENEP Lintasmadura.id– Harapan petani tembakau di Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, menyambut musim tanam tahun ini dibayangi persoalan yang tak kunjung terselesaikan. Kesulitan memperoleh Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi membuat mereka harus mengeluarkan biaya produksi lebih besar sejak awal masa tanam.
BBM menjadi kebutuhan penting bagi petani untuk mengoperasikan mesin pompa air yang digunakan menjaga ketersediaan air dan kelembapan lahan. Namun, terbatasnya pasokan BBM subsidi memaksa sebagian besar petani beralih membeli BBM non-subsidi dengan harga yang jauh lebih mahal demi memastikan proses budidaya tembakau tetap berjalan.
Kondisi tersebut memperparah beban petani yang sebelumnya telah dihadapkan pada kenaikan harga pupuk, biaya tenaga kerja, hingga ongkos perawatan tanaman. Akibatnya, modal usaha tani terus membengkak, sementara kepastian harga jual tembakau saat panen masih belum memberikan jaminan keuntungan.
Koordinator Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Pasongsongan, Masyuni Ramadhan, S.M., mengatakan persoalan sulitnya mendapatkan BBM subsidi kini menjadi salah satu keluhan terbesar petani di wilayahnya.
“Petani saat ini berada dalam kondisi yang sangat berat. Harga kebutuhan produksi terus meningkat, tetapi BBM subsidi justru semakin sulit diperoleh. Akhirnya kami terpaksa membeli BBM non-subsidi dengan harga lebih tinggi sehingga biaya tanam meningkat sejak awal musim,” ungkap Masyuni kepada media ini, Jumat (3/7/2026).
Menurutnya, pemerintah perlu segera mengambil langkah nyata agar distribusi BBM subsidi benar-benar berpihak kepada sektor pertanian. Selain menjamin ketersediaan BBM, ia juga berharap ada kebijakan yang mampu mengimbangi tingginya biaya produksi dengan harga jual tembakau yang lebih menguntungkan petani.
“Kami berharap pemerintah segera memberikan solusi melalui kemudahan akses BBM subsidi maupun kebijakan harga tembakau yang lebih berpihak kepada petani. Dengan begitu, hasil kerja keras petani tidak habis hanya untuk menutup biaya produksi,” ujarnya.
Sebagai solusi jangka panjang, Masyuni mengusulkan adanya mekanisme khusus dalam penyaluran BBM bersubsidi bagi petani, seperti penyediaan kuota khusus atau penerapan kartu kendali. Menurutnya, sistem tersebut dapat memastikan distribusi lebih tepat sasaran sekaligus menjamin kebutuhan BBM selama musim tanam terpenuhi.
Para petani berharap aspirasi tersebut segera mendapat perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Sumenep dan instansi terkait. Mereka ingin fokus meningkatkan produktivitas dan kualitas tembakau tanpa terus dibebani persoalan kelangkaan BBM yang hampir setiap tahun menjadi kendala utama dalam usaha tani.












