SUMENEP Lintasmadura.id – Memasuki akhir Mei 2026, sejumlah wilayah di Kabupaten Sumenep masih sering diguyur hujan meski secara klimatologis Madura telah memasuki musim kemarau. Kondisi cuaca yang tidak menentu itu pun menjadi perhatian masyarakat.
Kepala BMKG Stasiun Trunojoyo Sumenep, Ari Widjajanto, mengatakan fenomena tersebut merupakan dampak masa pancaroba atau peralihan musim yang hingga kini masih berlangsung di wilayah Madura.
Menurutnya, pada fase awal musim kemarau, potensi hujan memang masih dapat terjadi karena kondisi atmosfer belum sepenuhnya stabil.
“Walaupun secara klimatologis sudah memasuki musim kemarau, namun saat ini masih berada pada masa pancaroba sehingga peluang hujan masih cukup tinggi,” ujar Ari Widjajanto, Sabtu (23/5/2026).
Ia menjelaskan, hujan yang masih turun di Sumenep dipengaruhi adanya dinamika atmosfer di kawasan Indonesia bagian timur. BMKG mendeteksi sirkulasi siklonik yang bergerak dari wilayah Sulawesi Tengah menuju selatan dan kini berada di sekitar timur Kabupaten Sumenep, tepatnya dekat Pulau Selayar.
Kondisi tersebut memicu penumpukan massa udara yang berdampak pada meningkatnya pembentukan awan hujan di wilayah Madura.
“Adanya sirkulasi siklonik di sekitar timur Sumenep menyebabkan pertumbuhan awan konvektif menjadi lebih aktif,” jelasnya.
Selain itu, angin timuran yang biasanya menjadi ciri dominasi musim kemarau disebut belum bertiup secara konsisten. Akibatnya, pasokan udara lembap ke wilayah Madura masih cukup tinggi dan mendukung terjadinya hujan.
Tak hanya itu, suhu muka laut di perairan Indonesia yang masih hangat turut memperbesar kandungan uap air di atmosfer. Ditambah kondisi geografis Madura yang memiliki banyak perbukitan kecil, proses pembentukan awan hujan menjadi lebih mudah terjadi.
BMKG pun mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap perubahan cuaca selama masa pancaroba. Sebab hujan masih berpotensi turun sewaktu-waktu dan dapat disertai angin kencang maupun petir di sejumlah wilayah Kabupaten Sumenep.














